Senin, 26 Desember 2011 | By: Ulla Tours and Training Institute

Kotagede, Sentra Kerajinan Perak

clip_image002








clip_image003


Kawasan Kotagede terletak di sebelah tenggara Kota Yogya. Secara administratif, kawasan ini terbagi ke dalam dua wila­yah, yaitu Kecamatan Kota­gede, Yogyakarta dan Keca­matan Banguntapan, Bantul. Pusat pertoko­an kerajinan pe­rak berlokasi di Jalan Kemasan, Mondorakan dan Tegalgen­du.
clip_image005
clip_image007
Terdapat 52 toko di sepanjang Jalan Kemasan dan 16 toko di Jalan Mondo­rakan. Jumlah tersebut belum mencakup toko-toko yang tersebar ke dalam gang-gang permukiman. Selain itu, terdapat 3 toko terbesar yang menjadi pusat tujuan wisata, yaitu HS Silver, Ansor’s Silver dan Narty’s Silver. Ketiganya berada di Jalan Mondorakan dan Tegalgendu.

HS SILVER
PROFIL
clip_image009
Toko perak terbesar di Jl. Mondorakan No. 1 Kotagede ini dilengkapi workshop pembuatan perak yang dapat dilihat oleh seluruh pengunjung. Fasilitas tersebut menjadikan HS Silver sebagai salahsatu tempat tujuan utama saat ke Kotagede.
 
clip_image011Perak yang dijual mulai dari yang ber­kadar 800% - 925%. Produk yang dibuat antara lain cincin, anting, gelang, bros, ka­lung, miniatur, replika hingga lukisan. Selain itu, perak juga dijadikan lapisan pada vas dan guci.


image
Bahan dan alat yang digunakan adalah biji perak murni, bubuk perak, buah lerak, kertas pola, tawas, lem, tang, pinset, gunting, kompor, sikat, dan solder.  
Langkah Pembuatan :
1. Pembuatan kawat (silver wire making)
2. Pembuatan benang perak (fine wire making)
3. Pemilinan (twisting)
4. Penggepengan benang tampar (twisted wire flattening)
5. Pembuatan pola (pattern making)
6. Pembuatan ornamen (ornament making)
7. Pematrian (soldering)
8. Pembakaran (burning)
9. Perebusan (boiling)
10. Penyikatan (brushing)
11. Finishing/polishing
Lama pembuatan tergantung dari ukuran dan variasi ukiran. Seperti bros yang dikerjakan selama ± 1,5 hari, gelang selama ± 2 hari, cincin selama < 1 hari dan miniatur selama ± 5 hari. Makin besar ukuran, makin rumit ukiran, membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama.
Jumlah pekerja workshop sekitar 17 orang. Jam kerja mulai dari 08.00 – 16.00 WIB. Workshop dan showroom dibuka untuk umum setiap hari.
 
NARTI’S SILVER
clip_image031clip_image033

Sebagai alternatif, Narti’s Silver pun dapat kita kunjungi saat ke Kotagede. gerai toko yang terletak di Jl. Tegalgendu ini juga dilengkapi dengan fasilitas workshop yang buka setiap hari. Namun, jika berkunjung pada hari minggu, proses produksi tak lengkap karena beberapa pekerja libur.
PROSES PRODUKSI
  1. Campuran perak murni dan tembaga (7% dari berat perak) dilelehkan selama 30 menit hingga mencair.
  2. Cairan tersebut kemudian dituang ke dalam cetakan (dengan variasi ketebalan dan bentuk) hingga mengeras.
  3. Hasil pengerasan berupa batangan perak.
  4. Batangan tersebut kemudian ditempa berulang-ulang hingga mem­bentuk lempengan. Selanjutnya, lempengan dibentuk menjadi kawat menggunakan cetakan khusus (ukuran cetakan disesuaikan dengan kebutuhan).
  5. Kawat perak kemudian dibentuk menjadi berbagai macam pola tepian (frame) perhiasan.
  6. Kawat dengan ukuran kecil diulir hingga membentuk tambang.
  7. Uliran kawat tersebut kemudian dianyam mengikuti pola tepian (frame). Proses ini akan menghasilkan dekorasi perhiasan yang cantik.
  8. Hasil anyaman selanjutnya dipatri menggunakan bubuk perak.
  9. Atur tiap bagian perhiasan, rangkai, satukan dengan cara disolder.
  10. Perhiasan yang telah terangkai dibakar di dalam api hingga mencapai panas yang cukup, kemudian rebus dengan campuran air dan tawas.
  11. Rebus perak berulang-ulang hingga bersih dan berwarna putih.
  12. Gosok perak dengan buah lerak agar mengkilat.

Manding, Sentra Industri Sandang Kulit

clip_image002
clip_image004
Manding terletak Jalan Parang­tritis, 12 kilometer dari Kota Yogya. Manding merupakan kawasan sen­tra industri kerajinan kulit sapi dan kambing. Gerai aneka produk ku­lit seperti tas, sepatu, sandal, topi, jaket, dompet, ikat pinggang hing­ga gantungan kunci memadati jalan mulai dari gerbang utama.
clip_image006Sejak berdiri di tahun 1974, masa kejaya­annya hanya berlangsung hing­ga tahun 1990-an. Saat ini, Manding sedang mulai berusaha untuk bangkit dan jaya seperti dulu lagi. Jatuhnya Manding dikarena­kan krisis moneter yang mengakibatkan kenaikan harga bahan baku juga gem­pa bumi yang terjadi di tahun 2006.



PROFIL PENDIRI SENTRA KERAJINAN KULIT MANDING
clip_image008      Ratno Suhardjo (80 tahun), salahsatu pendiri sentra ke­rajinan kulit Manding. Bersama kedua temannya Su­prapto (alm) dan Yoto (alm), Pak Ratno berjuang me­ngembangkan manding hingga seperti saat ini. Ber­awal dari memanfaatkan limbah “baju” kuda (delman) menjadi tas, Pak Ratno dkk tak menyangka karyanya akan di­terima dipasaran. Kemudian, Ia me­mutuskan keluar dari pekerjaannya dan memulai usaha di tahun 1958. Cara membuat tas Ia pelajari saat bekerja di pembuatan “baju” kuda milik Bude­nya di Kota Yogya. Saat itu usianya baru 18 tahun.


clip_image010     Membutuhkan waktu 2 tahun, sampai akhirnya mahir dalam membuat tas. Pak Ratno memutuskan untuk pulang kampung ke Manding dan membuka usaha di sana. Melihat kesuksesannya, warga Desa Manding ingin membuka usaha kerajinan tas. Akhirnya, dibentuk Paguyuban Desa dengan kegiatan Pelatihan Pembuatan Kerajinan Tas Kulit. Pak Ratno dkk yang menjadi peng­ajarnya. Bermula dari sana, warga yang telah mahir akhirnya dapat mem­buka usaha sendiri. Tak hanya tas, model kerajinan kulit berkembang menjadi dompet, ikat pinggang, sepatu, topi dan jaket.
clip_image012     Ciri khas tas buatan Pak Ratno ialah pola pahat pada sisi-sisi badan tas. Tas buatan Pak Ratno dijual ke Pasar Beringharjo, Kaki lima Malioboro, dan pedagang-pedagang di Bo­robudur. Pada masa jaya, Pak Ratno mem­produksi tas setiap hari. Ia mampu mempe­kerjakan 15-20 karyawan. Tetapi kini ia hanya dibantu istri dan anak­nya. Pak Ratno pun hanya mem­produksi tas jika ada pesan­an.
     Dikarenakan bahan baku yang mahal, kulit tidak lagi jadi primadona pasar. Masa krisis ini tidak hanya berdampak pada usaha Pak Ratno. Pengusaha kera­jinan kulit lain pun mengalaminya. Saat ini, yang sedang digemari pasar yaitu natural craft atau kerajinan alami seperti pemanfaatan daun kering, eceng gondok dan bahan-bahan alami lain. Melihat potensi pasar tersebut, banyak pengusaha yang beralih dari kerajinan kulit ke kerajinan alami.

PRODUK TAS PAK RATNO
 
image

P R O S E S P R O D U K S I

Alat dan bahan yang digunakan adalah kulit sapi, lem karet (lateks), cat, benang jahit, ring, gunting, jarum, mesin jahit, dan kuas.
Langkah 1 - BADAN TAS
  1. Membuat pola pada karet;
  2. Kulit ditempel pada pola menggunakan lem. Keringkan selama ± 10 menit;
  3. Kulit yang telah menempel pada pola kemudian dijahit;
  4. Ukir dengan cara manual setiap sisi pola untuk menambah keindahan;
  5. Satukan setiap sisi pola tas beserta penutupnya dengan cara dijahit manual.
Langkah 2 – TALI TAS
  1. Tempel potongan kulit yang tipis pada lembaran kulit yang lebih keras dengan menggunakan lem karet. Keringkan selama ± 10 Menit;
  2. Jahit pada masing-masing potongan. Gunting sesuai pola;
  3. Satukan dengan badan tas yang telah diberi ring sebelumnya;
  4. Cat seluruh bagian tas. Keringkan selama 1 jam (jika cuaca cerah).

Kampung Wayang di Pucung Wukirsari

Picture45



    Pucung merupakan sentra kerajinan tatah sungging kulit, khususnya wayang.
    Pucung berlokasi di Dusun Karangasem, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
    Tatah berarti mema­hat, sedangkan sung­ging artinya mewarnai. Jadi, tatah sungging adalah proses memahat dan mewarnai pada suatu media. Di Pucung, media yang digunakan adalah kulit sapi dan kerbau. Kulit-kulit ini lah yang nantinya dibuat menjadi wayang.
    Sejarah Pucung menjadi kampung peng­rajin wayang berawal dari kehadiran Mbah Atmo Karyo atau biasa disebut Mbah Glemboh, Lurah (kepala desa) Dusun Pucung pada tahun 1917, sebelum Pucung berubah nama menjadi Du­sun Karangasem.
    Pada zaman dulu, untuk menjadi seorang lurah harus mendapatkan pelatihan dari panewon (ke­camatan). Panewon memiliki hubu­ngan langsung dengan Keraton. Pelatihan­nya pun dibina langsung oleh Sultan. Pada masa itu, Sultan yang bertahta adalah Hamengkubuwono VII. Secara tidak langsung, Mbah Glemboh pun men­jadi abdi dalem Keraton.
    Karena kedekatannya dengan Sultan, Mbah Glemboh kemudian diberi tugas untuk merawat dan menjaga wayang keraton. Kemudian pada tahun 1918, Mbah Glemboh tertarik membuat wayang sendiri. Dirumahnya, Ia belajar menatah wayang, dibantu oleh empat orang tetangganya yaitu Mbah Reso Mbulu, Mbah Cermo, Mbah Karyo, dan Mbah Sumo.
Picture27     Awalnya, wayang kulit buatan Mbah Glemboh hendak dibawa ke keraton, untuk diperlihatkan kepada Sultan. Namun ditengah perjalanan, Be­landa melihat hasil karya tersebut lalu membeli semuanya. Ternyata tidak hanya Belanda yang tertarik, pemilik salah satu toko batik terkenal yang kebetulan melihat, membawa wayang itu, kemudian membeli dan memajang wayang Mbah Glemboh ditoko batiknya.
    Hingga tahun 1930, Mbah Glemboh masih membuat wayang bersama keempat temannya beserta anak-anak mereka. Kemudian pada tahun 1970, PT Sarinah (perusahaan BUMN di Jakarta) datang ke Yogyakarta dan tertarik dengan wayang kulit hasil karya warga Pucung. Lama kelamaan, wayang kulit Mbah Glemboh makin dikenal dan laris dibeli pelanggan.
    Banyaknya peminat wayang menginisiatif­kan warga Pucung untuk ikut mem­produksi tatah sungging wayang. Hingga sekarang, warga Pucung masih memproduksi wayang. Keahlian menatah wayang mereka dapatkan secara turun temurun.
Picture1a      Wayang Pucung makin tersohor setelah mengikuti Expo Non Migas pada tahun 1980, yang diselenggarakan oleh Presiden Soeharto. Saat expo berlangsung, banyak pengunjung yang meminta untuk dibuatkan desain kerajinan tatah sungging yang baru. Permintaan tadi disanggupi oleh para pengrajin. Sejak saat itulah, produk tatah sungging kulit Pucung ber­kembang. Tak hanya wayang, aneka produk seper­ti hiasan dinding, kaligrafi, pembatas buku, kap lilin dan lampu, pigura, kipas tangan, serta aneka souvenir kecil lainnya dibuat disini.
    Pucung yang mulanya hanya memiliki 5 orang pengrajin, kini 1.060 penduduknya bekerja sebagai pengrajin tatah sungging. Ada pula peng­usaha atau pengepul kerajinannya berjumlah 138 orang. Tiap pengusaha rata-rata mempekerjakan 5-10 orang pengrajin. Para pengrajin membuat kerajinan di rumahnya masing-masing. Setelah selesai, lalu diserahkan ke pengepul.
    Produk tatah sungging Pucung sudah me­rambah ke kota-kota besar seperti Bali, Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang. Bahkan, eks­por ke Yunani, Turki, Jepang, dan Amerika. Mengikuti pameran merupakan salah satu upaya yang sering dilakukan para pengrajin untuk meluaskan jaringan pasarnya.
    Sayangnya, kini banyak pengrajin yang mem­buat kerajinan sesekali. Hal ini disebabkan harga kulit sapi dan kerbau sebagai bahan baku makin melambung tinggi. Belum lagi, proses pengerjaan kerajinan tatah sungging memerlukan waktu yang cukup lama, yakni sekitar 3 bulan. Jadi, jika hari ini membuat kerajinan, belum tentu saat itu juga mereka mendapatkan uang.
 
PROSES PEMBUATAN KERAJINAN TATAH SUNGGING KULIT
Picture34
  1. Kulit direndam dalam air semalaman, dijemur, kemudian dibersihkan dari bulu-bulu yang ter­sisa. Setelah bersih, permukaan kulit diberi pola.
  2. Kulit dipahat sesuai pola. Alat yang digunakan adalah paku ukir dan palu.
  3. Setelah dipahat, kemudian kulit dilukis menggunakan cat khusus kulit. Se­belum di cat, kulit diamplas terlebih dahulu.
  4. Terakhir, kulit yang telah diwarnai difinishing (diberi tangkai untuk wayang dan kipas atau kerangka besi untuk kap lampu).

Patung Primitif dari Pucung Pendowoharjo

Picture1c
    Sentra kerajinan patung primitif terletak di Dusun Pucung, Desa Pendowoharjo, Kecama­tan Sewon, Bantul, Yogyakarta. Jarak Dusun Pucung dengan Pusat Kota Yogya hanya 7 kilometer atau 15 menit perjalanan menggunakan mobil.
    Warga Dusun Pucung telah memproduksi patung primitif sekitar 15 tahun yang lalu. Keah­lian memahat kayu didapatkan warga Pucung dari seniman besar, Bagong Kussudiardjo. Sedangkan, ide pembuatan patung primitif tercetus dari Ambar, seorang pengusaha mebeuler. Bentuk patung primitif sendiri terinspirasi oleh pahatan-pahatan patung dari berbagai suku, salah satunya Suku Asmat, Papua.
     Awalnya warga hanya membuat mebeul kayu biasa. Kemudian, datanglah Pak Ambar dengan mem­bawa desain patung primitif. Ternyata, hasil pahatan warga Pucung tidak mengecewakan. Lama kelamaan, banyak yang tertarik dan ingin membeli karya mereka.
Picture1d     Sebagian besar patung-patung karya warga Pucung dikirim ke Bali yang kemudian diekspor ke Amerika, Jepang, Timur Tengah dan Eropa.
     Industri patung primitif mengalami masa jaya pada tahun 1997 sampai sekitar tahun 2005. Pada masa itu, harga bahan baku kayu sedang murah. Jumlah pengusaha patung mencapai 40 lebih pada saat itu. Masing-masing pengusaha rata-rata mem­produksi 100 hingga 300 patung tiap bulannya.
    Tak hanya patung, warga pun memproduksi asbak, tempat lilin, tem­pat pulpen, tempat kartu nama, tempat cd bahkan lemari. Bahan baku yang dipakai adalah kayu ma­honi.
    Namun sayang, saat ini permintaan patung primitif mulai berkurang karena pasar yang mulai je­nuh dengan produk pa­tung primitif. Padahal, potensi pasar lokal masih belum tergali.
    Kini, hanya tersisa 3 galeri produk patung primitif, antara lain Maharani Primitive Ceramic dan Bayu Handicraft.





PROSES PEMBUATAN KERAJINAN PATUNG PRIMITIF
Picture1f
  1. Kayu digambar pola terlebih dahulu.
  2. Pola lalu dipotong menggu­nakan mesin.
  3. Potongan-potongan patung kemudian di­satu­kan dengan paku.
  4. Patung lalu dibakar hingga warnanya berubah menjadi coklat tua atau hitam.
  5. Selanjutnya patung direndam da­lam cairan lem lalu diamplas hingga permukaanya halus.

Krebet, Desa Wisata Batik Kayu

Picture14
    Sentra kerajinan batik kayu Krebet ter­letak di Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jaraknya sekitar 12 kilometer dari Kota Yogyakarta. Terdapat sekitar 40 sanggar batik kayu di Krebet. Meski berada di daerah perbukitan kapur Pajangan, Krebet cukup dikenal dan telah menjadi salah satu desa wisata unggulan di Bantul.
    Dusun Krebet ber­batasan dengan Desa Ba­ngunjiwa di sebelah utara. Di sebelah selatan berba­tasan dengan Dusun Kra­bolan Wetan dan Dusun Dadabong. Sedangkan di sebelah timur dan barat berbatasan Desa Guwosari serta wilayah Triwidadi.
    Untuk datang ke Desa Wisata Kerajinan Ba­tik Kayu Krebet, pengun­jung dapat melewati Jalan Kasongan-Bangunjiwo.
    Sebelum tahun 1975, sebagian besar pen­duduk Krebet bekerja sebagai petani tadah hujan. Sediaan air yang minim di pegunungan kapur serta tanah yang tandus, tidak memungkinkan warga menggarap sawah sepanjang tahun. Berkat keah­lian otodidak Mbah Gunjiar dalam mengolah kayu yang ditularkannya pada warga, kini warga Krebet memiliki alternatif pekerjaan, yaitu membuat ke­rajinan wayang klitik, topeng pentul, dan tembem yang digunakan penari geculan pada tari jathilan.
    Usaha kerajinan wayang klitik dan penthul-tembem semakin berkembang dari hari ke hari. Lama-lama, warga tidak bertani lagi dan beralih profesi sebagai pengrajin sepenuhnya.
Picture19    Saat ini, para pengrajin telah berhasil mengekspor ke­rajinan batik kayu dan produk kriya kayu lainnya. Beberapa orang diantaranya adalah Kemiskidi (Sanggar Peni), Wakijan (Sanggar WB Ukir), Suroto, Supardi (Sanggar Karya Mandiri), dan Sarjio. Salah satu faktor keberhasilan dalam mengekspor adalah berkat kerjasama para peng­rajin dengan pengusaha-pengusaha di Yogyakarta juga Bali.
    Bahan baku keraji­nan Krebet yaitu kayu sengon yang berasal dari Temanggung, Muntilan, dan Kulonprogo. Biasa­nya bahan kayu sengon dibuat topeng, wayang klitik, dakon, tempat tisu, tempat buah, aneka souvenir dan produk lainnya.
     Kini produk kriya kayu difinishing dengan teknik batik, sehingga produk kriya kayu dikenal sebagai batik kayu. Perkembangan usaha batik kayu berlangsung turun temurun dari generasi pendahulu ke generasi muda secara alamiah. Banyak anak-anak usia sekolah dasar yang sudah mahir membuat batik kayu.
    Saat ini, ada 40 sanggar yang produktif di Krebet. Tenaga kerja yang terserap sekitar 400 orang. Kini, lebih dari 205 KK di Dusun Krebet menggan­tungkan hidupnya dari usaha kerajinan.
     Salah satu sanggar yang tertua adalah Sang­gar Peni, milik Kemiskidi. Sanggar Peni didirikan oleh Kemiskidi pada tahun 1988. Kemiskidi juga merupakan Ketua Paguyuban Pengra­jin Batik Kayu di Krebet. Ada pun Sanggar Kayu Batik milik Mugiyono yang didirikan sejak tahun 2004. Sanggar tersebut mampu menyerap 30 pekerja dengan kapasitas produksi topeng 100 buah, wayang 100 buah, dan souvenir 200 buah per hari. Sanggar lainnya yang dipimpin oleh kreator muda Yulianto, mampu mem­buat souvenir kayu, gantungan kunci, topeng ber­frame, dengan kualitas ekspor ke Australia dan Singapura. Yulianto di­bantu oleh 8 pekerjanya.
    Batik kayu Linggar Jati milik Supriyanto mem­produksi 500 buah kerajinan per bulan, dibantu 5 orang pekerja. 95% kera­jinan tersebut untuk di­ekspor. Sanggar Nakulo milik Jiwanto berdiri sejak tahun 2005, mampu menyerap 2 orang pekerja. Mifta Handicraft milik Dalijo, berdiri sejak tahun 2000, mampu menyerap 15 orang pekerja. Bayu Aji Batik milik Dalimin, berdiri sejak tahun 2003, mampu menyerap 5 tenaga kerja. Produk Bayu Aji Batik sudah diekspor ke Panama, Brasil, Malaysia dan Cina. Ragil Handycraft milik Riyadi, berdiri sejak tahun 2001. Produk-produknya sudah di­eks­por ke Amerika, Spanyol, Perancis, dan Malaysia. Tenaga kerja yang terserap sekitar 25 orang. Sanggar Punokawan milik Anton Wahano, berdiri sejak tahun 1988. Anton berhasil mengeskspor produk kerajinan batik kayu ke Amerika, Spanyol, Perancis, dan Malaysia. Sanggar milik Anton mempekerjakan sekitar 20 orang pekerja. Hasta Aji Batik milik Wanaji, berdiri sejak tahun 2000, sanggarnya mampu me­nyerap 16 pekerja.
Picture1b     Pada tahun 2006, hampir seluruh sanggar kerajinan batik kayu beserta alat-alat produksinya hancur akibat gempa. Selama 2 tahun warga Kre­bet berusaha membangun kembali usahanya.
    Tanggal 14 Ok­tober 2000, warga merintis Desa Wisata Kerajinan Krebet. Kini, ada sekitar 40 home stay dengan daya tampung hingga 400 orang. Atraksi utama di Desa Wisata Krebet adalah belajar membuat batik kayu, dakon, topeng dan wayang klitik.



PROSES PEMBUATAN KERAJINAN BATIK KAYU
Picture44
  1. Kayu diukir sesuai bentuk yang diinginkan, kemudian kayu tersebut dihaluskan menggunakan amplas.
  2. Setelah halus, kayu dibatik dengan lilin malam cair mengikuti pola.
  3. Kayu yang telah dibatik, kemudian dicelupkan ke dalam cairan pewarna.
  4. Setelah didiamkan beberapa menit, kayu dicelupkan ke dalam air mendidih untuk menghilangkan lilin malam.
  5. Terakhir, kayu dijemur hingga kering.
Kamis, 01 Desember 2011 | By: Ulla Tours and Training Institute

Kerajinan Kulit

Pembatas Buku Wayang
Kode : J.011
Warna : Coklat
Bahan : Kulit Sapi
Harga : Rp. 10.000
Order : 085221483216 / 085722034110

Kode : J.042
Warna : Coklat

Bahan : Kulit Sapi
Harga : Rp. 20.000
Order : 085221483216 / 085722034110

Tempat Tisu Wayang
Kode : J.029
Warna : Krem
Bahan : Kulit Sapi
Harga : Rp. 20.000
Order : 085221483216 / 085722034110

Kipas Kulit
Kode : J.012
Warna : Merah
Bahan : Kulit Sapi
Harga : Rp. 80.000
Order : 085221483216 / 085722034110


Gantungan Kunci
Kode : J.010
Warna : Coklat
Bahan : Kulit Sapi
Harga : Rp. 10.000
Order : 085221483216 / 085722034110


Sandal Kulit

Kode : J.028
Warna : Coklat tua, coklat muda, putih, kuning, ungu, merah
Ukuran : 37 - 41 cm

Bahan : Kulit Sapi
Harga : Rp. 20.000
Order : 085221483216 / 085722034110





Kerajinan Bambu

 
Box 
Kode : J.013
Ukuran :
Bahan : Bambu
Harga : Rp. 45.000
Order : 085221483216 / 085722034110

Tempat Tisu
Kode : J.006
Bahan : Bambu
Harga : Rp. 5.000
Order : 085221483216 / 085722034110
Tempat Permen 
Kode : J.007
Bahan : Bambu
Harga : Rp. 10.000
Order : 085221483216 / 085722034110

Tempat Tisu / Sendok & Garpu / Pinsil & Pulpen 
Kode : J.009
Warna : Ungu, Kuning, Oranye, Hijau Tua, Hijau Muda
Bahan : Bambu
Harga : Rp. 10.000
Order : 085221483216 / 085722034110

 
Kode : J.015
Bahan : Bambu
Ukuran : 23 x 26 cm 
Harga : Rp. 15.000
Order : 085221483216 / 085722034110

Keranjang Buah 
Kode : J.014
Bahan : Bambu 
Harga : Rp. 15.000
Order : 085221483216 / 085722034110

Tempat Pinsil / Perhiasan 
Kode : J.017
Bahan : Bambu 
Harga : Rp. 10.000
Order : 085221483216 / 085722034110